Orangnya tegap dan tinggi seperti umumnya militer, dengan gaya bicara perlahan dan juga gesture yang flamboyan, “bersama kita bisa” adalah slogan yang selalu dihembuskan, walaupun tidak jelas bisa apa? atau dalam hal apa kita bisa-nya?
Sebagai tandemnya laki-lakai berperawakan kecil, gesit dan tersirat kepintaran seorang bisnis-man atau pengusaha, bahkan dalam beberapa hal tampak lebih dominan dari pasangannya, yang beberapa hari yang lalu mengatakan bahwa “orang yang menentang kenaikan BBM, berarti membela orang kaya“, - entah di sadari atau tidak pernyataan-nya tersebut menambah jelas kualitas orang yang mengucapkannya itu.
Untuk jelasnya siapa yang tertipu, saya cuplikkan tulisan dari Bapak Kwik Gian Gee (mantan ketua BAPENAS), dibawah ini:
Kwik Kian Gie: Tak ada subsidi BBM. Pemerintah mengambil minyak bumi milik rakyat secara gratis dengan biaya hanya US$ 10/barrel.
Tapi karena hanya bisa menjualnya seharga US$ 77/barrel pemerintah merasa rugi jika harga minyak Internasional lebih dari harga itu.
Kebutuhan BBM Indonesia 1,2 juta bph.
Produksi 1 juta bph (dgn biaya < US$ 15/barel)
Harusnya impor hanya 0,2 juta bph dengan biaya Harga Internasional + US$15/barrel
Indonesia butuh pemimpin cerdas!
- 90% minyak Indonesia dikelola perusahaan asing! Perusahaan Asing yang menjadi Kaya, Indonesia tetap Miskin
- Keuntungan Perusahaan Migas yang beroperasi di Indonesia, Exxon Mobil tahun 2007 sebesar US$ 40,6 milyar (Rp 373 trilyun) dari pendapatan US$ 114,9 milyar (RP 1.057 trilyun –CNN).
- Bagi hasil migas sebesar 85:15 untuk pemerintah dan perusahaan asing baru dilakukan setelah dipotong “Cost Recovery” yang besarnya ditetapkan perusahaan asing. Jika tidak tersisa, Indonesia tidak dapat.
- Di Blok Natuna setelah dipotong Cost Recovery Indonesia dapat 0 dan Exxon 100% (Kompas, 13 Oktober 2006) Transparansi International Indonesia menemukan biaya senang-senang main golf dimasukkan dalam Cost Recovery DetikFinance.com)
Dari kutipan diatas jelas sudah bahwa kenaikan BBM adalah suatu tindakan atau program pemiskinan rakyat tersistematis, salah satu bukti lainnya adalah pembagian BLT:
Pada kenaikan BBM sebesar 125% tahun 2005 tidak semua orang miskin kebagian BLT. Tahun ini hanya 18 juta <30% dari 62 juta rakyat miskin Absolut versi Bank Dunia.
BLT 2005 hanya berjalan 1 tahun. Setelah kenaikan BBM seluruh harga barang naik, Jumlah Korban Busung Lapar/Kurang Gizi 5 juta orang.
Korban Tewas busung lapar jatuh di Aceh, NTT, Sulsel, dan Papua.
Apakah pemimpin-pemimpin seperti ini yang dibutuhkan Indonesia?
Jawabannya terserah anda!